Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah dapat menghambat kegiatan belajar mengajar, terutama ketika kualitas udara berada pada tingkat yang berbahaya bagi kesehatan anak-anak.

Dalam kondisi tersebut, Dinas Pendidikan di wilayah terdampak perlu menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik. Langkah yang dapat dilakukan antara lain menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), mengurangi jam belajar, atau meliburkan sementara kegiatan tatap muka sesuai kondisi dan arahan pihak berwenang.

Dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap pendidikan tidak hanya berkaitan dengan terganggunya proses belajar. Bencana ini juga dapat memengaruhi kesehatan, kondisi psikologis, fasilitas sekolah, hingga keberlanjutan pendidikan anak. Berikut rangkuman dampak utama karhutla terhadap dunia pendidikan.

1. Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh akibat Kabut Asap

Salah satu dampak langsung karhutla terhadap pendidikan adalah perubahan metode pembelajaran. Ketika kabut asap semakin pekat dan kualitas udara tidak aman, sekolah dapat beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR) untuk mengurangi paparan asap terhadap peserta didik.

Berdasarkan laporan sekitar 3.524 sekolah dan 571.338 murid di Kalimantan terdampak dan harus menjalankan pembelajaran jarak jauh akibat karhutla. Data tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi satuan pendidikan ketika bencana lingkungan mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Meskipun demikian, pelaksanaan PJJ membutuhkan dukungan perangkat, akses internet, serta pendampingan dari orang tua. Oleh karena itu, sekolah perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi keluarga dan ketersediaan fasilitas agar peserta didik tetap dapat mengikuti kegiatan belajar.

2. Pengurangan Jam Belajar dan Pemulangan Siswa Lebih Awal

Selain menerapkan PJJ, sekolah di wilayah terdampak dapat menyesuaikan durasi pembelajaran ketika kondisi udara memburuk. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi jam belajar atau memulangkan siswa lebih awal untuk membatasi paparan kabut asap.

Di sejumlah wilayah, termasuk Kubu Raya, Kalimantan Barat, kondisi kabut asap menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Penyesuaian jadwal perlu dilakukan dengan memperhatikan perkembangan kualitas udara dan arahan pemerintah setempat.

Dalam situasi seperti ini, keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas. Sekolah juga perlu menyampaikan informasi secara jelas kepada orang tua agar perubahan jadwal dapat dipahami dan diikuti dengan baik.

3. Risiko Gangguan Kesehatan pada Siswa

Kabut asap karhutla mengandung partikel halus dan berbagai zat pencemar yang dapat mengganggu kesehatan. Paparan asap berisiko menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta memperburuk kondisi anak yang memiliki asma atau gangguan pernapasan lainnya.

Anak-anak memerlukan perhatian khusus karena masih berada dalam tahap pertumbuhan. Oleh sebab itu, kegiatan di luar ruangan sebaiknya dibatasi ketika kualitas udara tidak sehat, dan sekolah perlu mengikuti rekomendasi dari instansi kesehatan setempat.

Apabila siswa mengalami keluhan pernapasan atau gejala yang mengkhawatirkan, orang tua dan pihak sekolah perlu segera mencari bantuan medis. Upaya pencegahan sangat penting agar dampak kabut asap tidak semakin mengganggu kesehatan dan proses belajar anak.

4. Kerusakan Infrastruktur dan Fasilitas Sekolah

Karhutla yang meluas hingga mendekati permukiman juga berpotensi mengancam fasilitas pendidikan. Dalam kondisi tertentu, api dapat membahayakan bangunan sekolah, ruang kelas, buku pelajaran, perangkat pembelajaran, dan sarana pendukung lainnya.

Kerusakan fasilitas dapat menghambat kegiatan belajar, bahkan setelah kondisi kebakaran mulai terkendali. Karena itu, pemerintah daerah perlu melakukan pendataan terhadap sekolah yang terdampak serta menentukan kebutuhan perbaikan berdasarkan tingkat kerusakan dan urgensinya.

Selain itu, keselamatan warga sekolah harus diperhatikan dalam setiap keputusan terkait penggunaan bangunan dan dimulainya kembali pembelajaran tatap muka.

5. Gangguan Psikologis pada Anak

Dampak karhutla tidak selalu terlihat secara fisik. Anak-anak yang menyaksikan kebakaran, melihat asap tebal di sekitar rumah, atau harus meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya dapat mengalami ketakutan, kecemasan, dan stres.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi, motivasi belajar, dan kenyamanan anak saat kembali bersekolah. Oleh karena itu, guru dan orang tua perlu memberikan dukungan emosional serta menciptakan suasana belajar yang aman.

Apabila anak menunjukkan tekanan psikologis yang berkelanjutan, pendampingan dari tenaga profesional dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan.

6. Risiko Putus Sekolah akibat Dampak Ekonomi

Karhutla juga dapat memengaruhi pendapatan keluarga, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada pertanian, perkebunan, atau kegiatan ekonomi di wilayah terdampak. Ketika penghasilan menurun, sebagian keluarga berpotensi mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan anak.

Situasi tersebut dapat meningkatkan risiko ketidakhadiran berkepanjangan dan hambatan melanjutkan sekolah. Karena itu, pemerintah daerah dan satuan pendidikan perlu memantau kondisi peserta didik serta menghubungkan keluarga yang membutuhkan dengan bantuan yang tersedia sesuai ketentuan.

Kolaborasi untuk Menjaga Pendidikan Tetap Berjalan

Dampak karhutla terhadap pendidikan membutuhkan penanganan yang menyeluruh. Dinas Pendidikan, sekolah, orang tua, instansi kesehatan, dan pemerintah daerah perlu bekerja sama untuk memastikan keselamatan siswa sekaligus menjaga keberlanjutan pembelajaran.

Melalui penyesuaian kegiatan belajar, pemantauan kualitas udara, perlindungan kesehatan, dan dukungan bagi keluarga terdampak, hak anak untuk memperoleh pendidikan dapat tetap diperhatikan selama masa bencana.

Dengan demikian, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Perlindungan kesehatan, keselamatan, dan keberlangsungan pendidikan anak juga harus menjadi bagian penting dari upaya penanggulangan bencana.